Menggali Pengetahuan Tentang Pelestarian Bangunan Dalam Workshop Bangunan Gedung Cagar Budaya 2017

    Dibaca 123 kali

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pemerrintah daerah dan pelaku pelestarian di Kabupaten/Kota, dilaksanakan Workshop Bangunan Gedung Cagar Budaya (BGCB). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dari para stakeholder terhadap prinsip-prinsip pelestarian bangunan gedung cagar budaya, sehingga diharapkan akan dapat mengimplementasikannya secara nyata. Sampai dengan tahun ini, total 57 kabupaten/kota telah bergabung dalam Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP), dibina dan difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk menciptakan arah pengembangan kota yang mendukung pelestarian cagar budaya diantaranya melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan dengan cara yang tepat dengan menghargai kaidah-kaidah pelestarian. Peserta yang mengikuti workshop ini terdiri dari 21 perwakilan Dinas yang membidangi Tata Bangunan dan Dinas yang membidangi Kebudayaan, serta 9 Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi. Kegiatan Workshop BGCB yang berlangsung di Pekanbaru, Provinsi Riau pada tanggal 2 -6 Oktober 2017 dilakukan dalam 2 tahapan, yaitu Penyampaian Materi mengenai Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Gedung Cagar Budaya, serta kunjungan lapangan. 

Penyampaian materi dilakukan pada 2 hari pertama, dengan narasumber Bidang Pelestarian Bangunan Gedung Cagar Budaya, diantaranya adalah Prof. Dr. Ing. Widjaja Martokusumo (ITB), Drs. Candrian Athtahiyat (Universitas Indonesia), Ir. Bambang Eryudhawan (Tim Sidang Pemugaran), Ir. Soehardi Hartono, M.Sc (Peneliti Gudang Tembakau Deli), Punto Wijayanto, ST., MT (Universitas Trisakti), Ir. Revianto Santosa, M.Arch. (TP2WB Yogyakarta), Ir. Febrani Suryaningsih (Pusat Dokumentasi Arsitektur/PDA), Ir. Nadia Purwestri (PDA), Marlin Indra, ST., M.Ars (Perancang Restorasi Bioskop Metropole Jakarta).

 

Acara Workshop BGCB secara resmi dibuka oleh Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau, H. Masperi. Setelah beliau menyampaikan sambutan selamat datang sekaligus pembukaan, dilanjutkan dengan penyampaian keynote speech oleh Dr. Laretna Adishakti mengenai pelestarian bangunan gedung cagar budaya sebagai tonggak pelestarian kota pusaka. Serta pemaparan materi mengenai dasar hukup pelestarian, yaitu UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, oleh Kasubdit Pelestarian Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemdikbud, serta Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Cagar Budaya yang Dilestarikan oleh Kasubdit Penataan Bangunan dan Lingkungan Khusus Kemen. PUPR.

Penyampaian materi yang dilakukan secara pleno, dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama yaitu Persiapan Pelestarian BGCB, menitikberatkan pada Pemahaman nilai signifikansi budaya (cultural significance) dan penilaian signifikansi budaya, seagai daar dalam melakukan penelitian kondisi fisik BGCB dan dapat dipilih usulan penanganan sesuai kebutuhan. Pada bagian kedua, peserta diberikan materi terkait perencanaan pelestarian BGCB, yang memerlukan data kesejarahan yang lengkap dan terintegrasi, baik dalam bentuk dokumentasi, arsip, surat, kartu pos antik, artikel/berita surat kabar lama, peta lama dan foto udara lama. Dalam memperoleh data kesejarahan tersebut, peran arsiparis memegang peranan penting sehingga diperlukan peningkatan kapasitas arsiparis daerah. Di Bagian ketiga, dipaparkan materi-materi terkait pelestarian dan pemanfaatan BGCB melalui studi-studi kasus, seperti Gedung Eks de Javasche Bank Jakarta yang melalui proses pemugaran cukup panjang sebelum akhirnya dapat difungsikan sebagai Museum Bank Indonesia, serta eks Bioskop Megaria Jakarta yang sempat mengalami kemunduran dari segi jumlah penonton maupun kondisi bangunan, namun setelah direstorasi berhasil menjadi salah satu bioskop ternama di Jakarta.

Pada hari ketiga, peserta diajak turun langsung melakukan kunjungan lapangan untuk mengimplementasikan materi-materi yang telah disampaikan. Kunjungan dilakukan di Tangsi (markas) Mempura di Siak, Kabupaten Siak. Bangunan tersebut telah dilakukan penelitian oleh TACB Nasional dan oleh Balai Penelitian Cagar Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam kunjungan lapangan tersebut, peserta dipandu oleh para mentor, untuk dapat menyelesaikan tugas terkait identifikasi kondisi fisik BGCB serta analisis perubahan/kerusakannya. Dalam menyelesaikan tugas, peserta dibagi menjadi 5 kelompok dengan alur pengamatan terdiri dari: aspek sejarah, ekskavasi arkeologi, pemugaran arsitektur, intergasi sejarah dan identifikasi arsitektur, serta utilitas dan struktur. Kemudian, peserta diminta menyusun paparan terkait penyelenggaraan pelestarian BGCB Tangsi Mempura tersebut, dan mempresentasikannya di hadapan para Mentor di Kantor Bupati Siak keesokan harinya. Dari hasil pemaparan, dapat disimpulkam bahwa para peserta telah mampu memahami prinsip-prinsip pelestarian BGCB, mengimplementasikan proses penelitian/identifikasi terhadap kondisi BGCB, melakukan analiis terhadap perubahan yang terjadi serta menyusun rekomendasi pemanfaatannya.

Workshop BGCB ditutup dengan penyerahan hadiah kepada peserta terbaik, yaitu Ir. Budi Fathoni (Perwakilan TKPD Kota Malang), dan kelompok dengan presentasi terbaik. Sebagai penutup, dengan diselenggarakannya workshop ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman terhadap prinsip-prinsip pelestarian bangunan gedungcagar budaya sebagai aset pusaka yang bernilai signifikansi, serta meningkatkan kesadaran peserta dalam melaksanakan pelestarian BGCB sesuai dengan peran dan fungsinya di daerah. Dengan demikian, diharapkan akan ruang-ruang kota yang nyaman, berjati diri dan berkelanjutan, dengan memperhatikan pelestarian BGCB sebagai warisan budaya.