Workshop Analisis Dampak Pusaka 2018

    Dibaca 229 kali

Penyelenggaraan Kota Pusaka diperlukan pengelolaan yang bersifat khusus dalam setiap tahapan pelaksanaannya. Kegiatan pemugaran dan/atau pembangunan di Kota Pusaka memerlukan instrumen yang dapat menilai dampak suatu rencana pembangunan terhadap keberadaan nilai penting yang terdapat pada suatu bangunan/kawasan. Pada tahapan penyusunan dokumen perencanaan teknis ataupun proposal pembangunan di kawasan bersejarah diperlukan adanya proses Analisis Dampak Pusaka/Andap (Heritage Impact Assessment).

Analisis Dampak Pusaka adalah sebuah proses melakukan identifikasi, memprediksi, mengevaluasi serta mengkomunikasikan dampak negatif yang mungkin muncul dari suatu pembangunan atau rencana pembangunan terhadap nilai-nilai penting dari atribut pusaka yang dilestarikan baik berupa ragawi maupun tak ragawi, untuk kemudian diberikan rekomendasi cara untuk mencegah atau meminimalkan dampak negatif tersebut. Keberadaan Andap menjadi penting terkait adanya kebutuhan tentang instrument untuk mengukur sejauh mana rencana pembangunan atau penataan dapat diijinkan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap nilai penting suatu kawasan pusaka yang dilestarikan.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan pemahaman dari para pemangku kepentingan dan penyelenggara pelestarian terhadap prinsip-prinsip analisis dampak pusaka, pada tanggal 10-12 Oktober 2018 Direktorat Bina Penataan Bangunan menyelenggarakan Workshop Analisis Dampak Pusaka/Heritage Impact Assessment. Kegiatan diikuti oleh peserta perwakilan OPD yang membidangi pelestarian pusaka daerah, antara lain Bappeda, Dinas PU/Cipta Karya, Dinas Tata Ruang dan Dinas Kebudayaan Dinas Tata Bangunan dan Dinas Kebudayaan dari 30 Kabupaten/Kota, Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan dari 17 Provinsi, serta internal Direktorat Bina Penataan Bangunan.

 

Penyampaian Sambutan pembukaan oleh Kasubdit Penataan Bangunan dan Lingkungan Khusus, Ir. Dian Irawati, MT

Peserta Workshop Analisis Dampak Pusaka 2018

Pada hari pertama, 10 Oktober 2018, dilaksanakan pembukaan. Pada kesempatan tersebut, Kasubdit Penataan Bangunan dan Lingkungan Khusus mewakili Direktur Bina Penataan Bangunan, menegaskan bahwa dalam penyelenggaraan Kota Pusaka diperlukan instrumen yang dapat menilai dampak suatu rencana pembangunan terhadap keberadaan nilai penting yang terdapat pada suatu bangunan/kawasan. Pada tahapan penyusunan dokumen perencanaan teknis ataupun proposal pembangunan di kawasan bersejarah diperlukan adanya proses Analisis Dampak Pusaka. Dari proses tersebut, dapat diketahui perkiraan dampak yang akan ditimbulkan, sehingga dapat diantisipasi melalui langkah-langkah mitigasi sesuai dampak dimaksud.

Para narasumber merupakan pejabat, akademisi dan praktisi di Bidang Pelestarian Kawasan Pusaka, antara lain:

  • Ir. Laretna T. Adishakti, M.Arch (Universitas Gadjah MAda, ICOMOS)
  • Abi Kusno (Kasi Pelindungan, Dit. Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemendikbud),
  • Arya Abieta, IAI (Tim Sidang Pemugaran DKI Jakarta),
  • Dian Irawati (Kasubdit Penataan Bangunan dan Lingkungan),
  • Agustinus Madyana Putra (Universitas Atmajaya Yogyakarta)
  • Aristia Kusuma, ST., M.Ars. (Balai Pelestarian Pusaka Indonesia)
  • Ketua Dewan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya (DP2WB) DIY
  • Kepala Dinas PU, Perumahan, dan ESDM Prov. Yogyakarta

Materi Workshop Analisis Dampak Pusaka mengacu pada Guidance on Heritage Impact assessment for Cultural World Heritage Properties yang disusun oleh ICOMOS, serta Pedoman Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka yang disusun oleh Kementerian PUPR Tahun 2015. 

Penyampaian materi sesi pertama, dengan narasumber Ir. Laretna T. Adishakti, M.Arch dan Bapak Abikusno (Dit. Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman)

Sesi diawali dengan penyampaian materi berkaitan dengan pengenalan Analisis Dampak Pusaka, definisi, kriteria dan studi kasus penerapan Andap baik dalam pemugaran bangunan pusaka maupun dalam pembangunan baru.  Narasumber yang menyampaikan materi yaitu Dr. Ir. Laretna T. Adishakti, M.Arch. Beliau menggarisbawahi bahwa pelestarian pusaka adalah pengelolaan perubahan. Keberlanjutan yang menerima perubahan adalah konsep dasar pelestarian, namun tetap harus dilaksanakan dengan mematuhi prinsip-prinsip pelestarian yang berlaku. Pertanyaan yang kerap muncul adalah bagaimana melestarikan pusaka di lingkungan yang menuntut transformasi karena kebutuhan modernisasi dan pembangunan? Di sinilah peran Andap diperlukan, dengan tahapan sebagai berikut:

  • penilaian lingkup,
  • pelaksanaan (dokumentasi data dasar dan data tambahan),
  • evaluasi nilai signifikansi,
  • analisis ancaman,
  • penilaian dampak,
  • penyusunan strategi mitigasi,
  • pengawasan dan pelaporan.

Pada Pleno kedua disampaikan materi terkait implementasi analisis dampak pusaka, diantaranya yang telah berjalan yaitu dalam Pemugaran Bangunan Gedung Cagar Budaya Tangsi Mempura Kabupaten Siak, serta Penataan Kawasan Silo Kota Sawahlunto.

Penyampaian materi sesi kedua, dengan narasumber Ir. Dian Irawati, MT dan Ir. Arya Abieta, IAI