Kujungan Lapangan di Kawasan Malioboro

    Dibaca 343 kali

Pada Hari kedua, 11 Oktober 2018, para peserta diajak untuk melakukan kunjungan lapangan ke Kawasan Malioboro. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada adanya rencana pembangunan Jogja Planning Gallery (JPG) yang akan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY. Lokasi lahan yang akan digunakan eksistingnya merupakan bangunan kantor Dinas Pariwisata.

01

Peserta berfoto bersama di depan Stasiun Yogyakarta

 

0203

Suasana Koridor utama Malioboro

04

PKL makanan di sekitar pedestrian koridor Malioboro

05

Parkir di sepanjang jalan utama, dibatasi dengan bollard dengan jalur pedestriannya

Kawasan Malioboro selama ini telah cukup terkenal sebagai koridor wisata yang menarik di Kota Yogyakarta, dimana para wisatawan dapat berbelanja souvenir dan menikmati makanan khas yang dijual di kios-kios dan penjual makanan yang kebanyakan merupakan PKL di koridor tersebut. Di kawasan Malioboro juga berdiri bangunan-bangunan pusaka, diantaranya adalah Gedung DPRD, Gedung Kepatihan, serta beberapa toko yang masih mempertahankan bentuk arsitektur bangunan kolonial.

44444444444444

Beberapa pertokoan di Kawasan Malioboro

08

Lokasi lahan yang akan digunakan sebagai Jogja Planning Gallery, eksistingnya merupakan kantor Dinas Pariwisata Yogyakarta

Keberadaan para pedagang serta parkir di sepanjang jalan tersebut menyebabkan kawasan tidak teratur serta mempengaruhi kenyamana n pejalan kaki dan pengguna jalan. Oleh sebab itu Pemerintah Provinsi DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan penataan Kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer, yang telah dilaksanakan sejak tahun 2014 dan akan berakhir tahun 2021. Pada tahun 2018, penataan yang dilakukan berlokasi di sisi barat Malioboro. Selain itu, pada 2019 sampai 2021 akan dibangun Jogja Planning Gallery yang menempati gedung eks Dinas Pariwisata DIY. Bangunan yang akan dibuat tiga lantai ini akan menceritakan masa lalu, masa kini, dan masa depan Yogya.

Jogja Planning Gallery direncanakan akan terdiri dari 5 lantai, dengan KDB 68%, KLB 6,4 dan KDH 11%. Gedung ini juga akan dilengkapi dengan parkir bawah tanah (basement) sekitar 300 kendaraan roda 4. Pembangunan Jogja Planning Gallery ini akan menerapkan prinsip bangunan hijau (green building), antara lain dengan meminimalkan penggunaan listrik melalui pemanfaatan penerangan alami, pengurangan penggunaan penyejuk udara, serta pengelolaan air hujan untuk didaur ulang dan dimanfaatkan sebagai toilet flushing. Adapun fungsi-fungsi yang akan diakomodir dalam bangunan Jogja Planning Gallery ini adalah:

  • Lantai 1: pendopo, galeri seni, ruang curator
  • Lantai 2: ruang audio visual, maket besar Yogyakarta, galeri perencanaan Yogyakarta
  • Lantai 3: rencana kawasan strategis dan penataan ruang Yogyakarta
  • Lantai 4: ruang sejarah perkembangan Yogyakarta dan kawasan cagar budaya
  • Lantai 5: galeri pandang merapi dan perpustakaan.

111

Desain Jogja Planning Gallery

 

222

Desain Jogja Planning Gallery

11_3

Peserta meninjau lahan lokasi pembangunan Jogja Planning Gallery

12_1

Peserta berdiskusi di lahan lokasi pembangunan Jogja Planning Gallery

13_1

Peserta mendengarkan penjelasan dari Kepala Dinas Pu Provinsi DIY mengenai penataan Kawasan Malioboro dan Pembangunan Jogja Planning Gallery.

333333333333333

Hasil Kunjungan lapangan kemudian didiskusikan secara kelompok, dengan didampingi oleh para mentor.

Hasil Kunjungan lapangan kemudian didiskusikan secara kelompok, dengan didampingi oleh para mentor, yaitu Dr. Ir. Laretna T. Adishakti, M.Arch, Ir. Arya Abieta, IAI dan Aristia Kusuma, ST., M.Ars. Para peserta berusaha menerapkan substansi yang telah dipelajari sebelumnya terkait penilaian Analisis Dampak Pusaka, yaitu keberadaan rencana pembangunan Jogja Planning Gallery terhadap Kawasan Malioboro. Pada hari berikutnya, perwakilan masing-masing kelompok memaparkan hasil Analisis yang telah disusun. Hasil pemaparan kemudian ditanggapi oleh peserta dari kelompok lainnya, serta diberikan masukan oleh KAsubdit Penataan Bangunan dan Lingkungan Khusus serta Aristia Kusuma ST, M.Ars. Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara umum peserta telah memahami proses Analisis Dampak Pusaka, hanya saja perlu dipertajam analisis yang dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan RTBL sebagai dokumen pengaturan dan pengendalian pembangunan, serta kurang detailnya komponen mitigasi dampak yang harus diantisipasi. 

15

Perwakilan kelompok peserta mempresentasikan hasil kunjungan lapangan.

16_2

Peserta menyimapk pemaparan hasil kunjungan lapangan

Dengan berakhirnya pemaparan peserta tersebut, maka selesailah rangkaian Workshop Analisis Dampak Pusaka. Workshop ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan bagi pemenang kuis, dan kelompok terbaik yaitu kelompok 3 dan 2, serta penyerahan sertifikat kepada perwakilan peserta. Penyerahan tersebut dilakukan oleh Kasubdit Penataan Bangunan dan Lingkungan Khusus, serta dilanjutkan dengan penutupan. Diharapkan pengetahuan dan pengalaman baru yag diperoleh para peserta dapat diterapkan di tempat tugas masing-masing dalam rangka mengawal penyelenggaraan pelestarian bangunan dan kawasan pusaka di daerah. 

17_1

Penyerahan hadiah kepada peserta terbaik oleh Kasubdit Penataan Bangunan dan Lingkungan Khusus

18_1

Penyerahan sertifikat peserta secara simbolis oleh Kasubdit Penataan Bangunan dan Lingkungan Khusus.