WORKSHOP HISTORIC URBAN LANDSCAPE (HUL) 2016

    Dibaca 340 kali

Dalam rangka memperkaya pemahaman terkait dengan Historic Urban Landscape dalam pengembangan kota pusaka, kegiatan Workshop Historic Urban Landscape 2016 dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP). Sampai dengan tahun ini, total 52 kabupaten/kota telah bergabung dalam program ini, dibina dan difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk menciptakan arah pengembangan kota yang mendukung pelestarian cagar budaya  diantaranya melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan dengan cara yang tepat dengan menghargai kaidah-kaidah pelestarian.

Kegiatan workshop dilaksanakan selama lima hari yaitu pada tanggal 24-28 Oktober 2016, dengan mengundang Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan dari 17 Provinsi dan 24 Kabupaten/Kota peserta P3KP yang di tahun 2017 atau 2018 sesuai siklusnya akan menyusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan di kawasan prioritasnya masing-masing sekaligus mensahkan menjadi peraturan Bupati/Walikota.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberi pemahaman mengenai Historic Urban Landscape (HUL) sebagai sebuah paradigma baru dalam pengembangan kota pusaka yang dapat digunakan sebagai pendekatan dalam penyusunan instrumen pengaturan seperti Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan untuk penataan dan pelestarian cagar budaya/pusaka; serta meningkatkan sensitivitas kabupaten/kota peserta P3KP dan Satker PBL Provinsi dalam menemukenali karakter dan potensi aset pusaka yang dapat dikembangkan.

 Historic Urban Landscape atau Lansekap Kota Bersejarah sendiri merupakan pendekatan dalam pengembangan kota bersejarah yang direkomendasikan oleh UNESCO sejak tahun 2011. Pendekatan lansekap kota bersejarah bergerak tidak hanya mengenai pelestarian lingkungan fisik, namun berfokus pada seluruh lingkungan manusia dengan semua kualitas benda dan tak bendanya.

Pendekatan lansekap kota bersejarah melihat dan menafsirkan kota sebagai rangkaian dalam ruang dan waktu. Pendekatan ini berusaha untuk meningkatkan keberlanjutan perencanaan dan intervensi desain dengan memeperhatikan lingkungan terbangun yang ada, warisan budaya benda dan tak benda, keragaman budaya, faktor sosial, ekonomi dan lingkungan bersamaan dengan nilai-nilai masyarakat setempat. Terutama dalam penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) di Kawasan Prioritas Kota Pusaka yang akan menjadi instrumen pengaturan dan pengendali penataan bangunan dan lingkungan, pemahaman mengenai perspektif historic urban landscape ini sangat diperlukan.

 Acara Workshop Historic Urban Landscape (HUL) secara resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Cipta Karya, Ir. Sri Hartoyo, Dipl. SE, ME, yang diwakilkan oleh Direktur Bina Penataan Bangunan, Ir. Adjar Prajudi, MCM., MCE. Setelah resmi dibuka secara pleno, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi terkait latar belakang dan landasan teori mengenai pendekatan Historic Urban Landscape hingga hari kedua yang dibawakan oleh berbagai narasumber.

Selanjutnya pada hari ketiga nanti, peserta akan dibagi menjadi 3 kelompok, yang akan melakukan kunjungan lapangan ke Kota Tua Jakarta, yaitu Kawasan Taman Fatahillah, Kawasan Gudang Timur, dan Kawasan Masjid Pekojan. Hasil kunjungan lapangan digunakan menjadi bahan paparan yang akan dipresentasikan oleh setiap kelompok. Pada hari keempat, selain dilakukan pemaparan hasil kunjungan lapangan, juga dilakukan Klinik Kota Pusaka dengan para Narasumber.

 Dengan diselenggarakannya workshop ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman terhadap prinsip-prinsip penataan kawasan cagar budaya, meningkatkan kesadaran kami semua untuk semakin menghargai keberadaan objek-objek cagar budaya dalam setiap kegiatan pembangunan, dan mewujudkan ruang-ruang kota yang nyaman, berjati diri dan berkelanjutan.

 Peserta  dapat menindaklanjuti  workshop  ini  dengan  beberapa  hal  antara lain:

  1. Mengaplikasikan pendekatan  Historic  Urban

Landscape  dalam  penyusunan  Rencana  Tata Bangunan dan Lingkungan di Kawasan Pusaka

  1. Peserta Kabupaten/  Kota  menyebarluaskan  atau mensosialisasikan  pendekatan  Historic  Urban Landscape kepada anggota Tim Kota Pusaka Daerah
  2. Peserta Provinsi  menyebarluaskan  atau mensosialisasikan  pendekatan  Historic  Urban Landscape kepada Tim  Satuan Kerja PBL Provinsi dan kepada  Kabupaten/  Kota  lain  yang  belum  mengikuti Program  Penataan  dan  Pelestarian  Kota  Pusaka (P3KP).

 Kami  berharap  tindak  lanjut  dari  workshop  ini  baik  yang  dilaksanakan  oleh  Pemerintah  Kabupaten/  Kota  maupun Satker PBL Provinsi dapat didokumentasikan dan selanjutnya diinformasikan kepada Direktorat Bina Penataan Bangunan.

 Tindak  lanjut  yang  dilakukan  menjadi  bahan  evaluasi  bagi kami  atas  pencapaian  workshop ini  serta  menjadi  salah satu indikator  keberhasilan  pelaksanaan  P3KP  di  tingkat  Provinsi dan Kabupaten/ Kota.